News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Proyek Drainase Jatirasa Tengah Senilai Rp189 Juta Disorot: Pekerjaan Dinilai Tak Sesuai Spesifikasi, Warga Curiga Ada Pembiaran Kualitas Pekerjaan Dinilai Buruk

Proyek Drainase Jatirasa Tengah Senilai Rp189 Juta Disorot: Pekerjaan Dinilai Tak Sesuai Spesifikasi, Warga Curiga Ada Pembiaran Kualitas Pekerjaan Dinilai Buruk

 


KARAWANG | KILATBERITA | Proyek Pembangunan Saluran Drainase Jatirasa Tengah di RT 002/008 Kelurahan Karangpawitan, Kecamatan Karawang Barat, kembali memicu tanda tanya besar. Meski tercatat bernilai Rp 189.385.000 dari APBD Karawang 2025, kualitas pekerjaan di lapangan jauh dari ekspektasi publik.


Proyek yang digarap CV Latanza melalui SPK Nomor 027.2.062.01.0012.477.AST KPA SDAPUPR 2025 dengan durasi kontrak 60 hari ini seharusnya memasang uditch dan box culvert bersertifikat SNI, masing-masing sepanjang puluhan hingga ratusan meter, mendapat sorotan dari warga sekitar. Pengerjaan yang tengah berlangsung itu dinilai tidak menunjukkan kualitas yang memadai dan dianggap jauh dari standar teknis.


Sejumlah warga menyebut pemasangan material terlihat tidak rapi. Struktur drainase tampak tidak presisi, sehingga menimbulkan kekhawatiran mengenai daya tahan konstruksi dalam jangka panjang.


Selain persoalan kualitas, proyek tersebut juga ditengarai minim pengawasan. Warga mengaku jarang melihat petugas dari instansi terkait berada di lokasi untuk memastikan pekerjaan berlangsung sesuai aturan.


Sorotan lain muncul terkait penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Para pekerja terlihat tidak memakai perlengkapan keselamatan dasar, seperti helm proyek, rompi reflektif, atau sepatu keselamatan.


Padahal, lokasi proyek berada di kawasan permukiman yang padat. Warga menilai ketiadaan prosedur K3 berpotensi menimbulkan risiko kecelakaan bagi pekerja maupun masyarakat sekitar.



Warga juga menyayangkan pemasangan u-ditch yang dilakukan saat saluran masih tergenang air. Kondisi tersebut dinilai tidak sesuai standar konstruksi karena dapat memengaruhi ketepatan pemasangan dan kekuatan bangunan.



Salah seorang pekerja mengaku pemasangan dilakukan dalam kondisi air yang belum surut. Menurutnya, penyedotan air telah dilakukan berkali-kali, tetapi genangan tidak kunjung habis.


Ketika ditanya soal keberadaan mandor atau pengawas lapangan, pekerja tersebut menyebut mandor jarang hadir dan biasanya baru terlihat pada sore hari.


Kondisi itu membuat warga semakin meragukan efektivitas pengawasan proyek. Mereka khawatir ketidakhadiran pengawas akan membuat kualitas pekerjaan semakin rendah.


Warga berharap pemerintah daerah turun tangan melakukan pengecekan langsung ke lokasi. Menurut mereka, evaluasi perlu dilakukan sebelum proyek selesai agar tidak terjadi pemborosan anggaran.


Selain itu, warga menilai drainase merupakan infrastruktur penting bagi lingkungan sekitar, terutama dalam mencegah genangan dan banjir. Karena itu, kualitas pembangunan harus menjadi prioritas utama.


Hingga berita ini diturunkan, pihak kontraktor maupun instansi terkait belum memberikan keterangan resmi atas sorotan warga mengenai pelaksanaan proyek tersebut.


(Teddy)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.