News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

“Bapa Aing” Menggema di Cilebar: KDM Dampingi Presiden Prabowo, Potret Kepemimpinan yang Membumi di Panen Raya Karawang

“Bapa Aing” Menggema di Cilebar: KDM Dampingi Presiden Prabowo, Potret Kepemimpinan yang Membumi di Panen Raya Karawang


KARAWANG | KILATBERITA | Perhelatan Panen Raya yang dihadiri Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang, tak hanya menjadi agenda strategis ketahanan pangan nasional, tetapi juga menghadirkan potret kuat tentang kepemimpinan yang dirasakan langsung oleh rakyat.

Sebelum Presiden tiba di lokasi, perhatian ribuan warga yang memadati area panen justru tertuju pada sosok Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Kedatangannya disambut riuh dengan teriakan khas, “Bapa Aing, Bapa Aing!” yang menggema sepanjang jalur menuju tenda utama.

Sebutan tersebut bukan sekadar ekspresi euforia. Dalam konteks budaya Sunda, “Bapa Aing” merepresentasikan ikatan emosional yang dalam—simbol kedekatan, kepercayaan, dan penghormatan rakyat kepada pemimpinnya. 

Momen ini menegaskan bahwa Kang Dedi Mulyadi (KDM) tidak sekadar hadir sebagai pejabat negara, melainkan figur yang dianggap dekat, hadir, dan memahami denyut kehidupan masyarakat.

Di tengah pengamanan ketat sebuah agenda kenegaraan, KDM tampil tanpa jarak. Ia menyapa warga satu per satu, menjabat tangan para petani, dan merespons sapaan dengan senyum tenang. Protokol tak menghalangi interaksi, formalitas tak memutus komunikasi. Sebuah sikap yang jarang terlihat dalam agenda resmi berskala nasional.

Seorang petani asal Cilebar menilai antusiasme warga tersebut lahir secara alami, bukan rekayasa. Menurutnya, kedekatan KDM dengan masyarakat telah terbangun sejak lama melalui kebiasaannya turun langsung ke lapangan.

“Beliau sering datang ke sawah, duduk bareng petani, dengar keluhan tanpa perantara. Jadi warga merasa beliau bagian dari kami, bukan pejabat yang jauh,” ujarnya.

Ia berharap, kehadiran KDM mendampingi Presiden Prabowo dalam Panen Raya ini tidak hanya bersifat simbolik, tetapi mampu memperkuat jembatan komunikasi antara petani Karawang dan pemerintah pusat. Terutama dalam memastikan kebijakan pangan nasional benar-benar berpihak pada petani sebagai aktor utama swasembada pangan.

Panen Raya di Cilebar menjadi lebih dari sekadar seremoni pertanian. Ia menjelma ruang edukatif tentang makna kepemimpinan: hadir di tengah rakyat, mendengar tanpa sekat, dan membangun kepercayaan melalui tindakan nyata. Di sela agenda besar negara, kesederhanaan itulah yang justru meninggalkan kesan paling kuat.

Teddy K/Red

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.