Kreasi SMAN 1 Karawang dalam Cresthala NAVOSKA, Ketika Suara Generasi Muda Menjaga Identitas Budaya
Karawang, Kiatberita.web.id Budaya konKompetisi bertajuk ”Cresthala Tapa: Irama dalam Waktu, Atma dalam Suara” yang dipersembahkan oleh Paduan Suara SMA Negeri 1 Karawang (NAVOSKA).
Ratusan penonton memenuhi Gedung Aula Universitas Buana Perjuangan Karawang pada Sabplltu (23/5/2026).
Sejak siang hari, suasana aula sudah dipadati siswa, akademisi, tamu undangan, hingga masyarakat umum yang datang untuk menyaksikan Budaya Konser Pra-Kompetisi bertajuk ”Cresthala Tapa: Irama dalam Waktu, Atma dalam Suara” yang dipersembahkan oleh Paduan Suara SMA Negeri 1 Karawang (NAVOSKA).
Konser tersebut menjadi bagian dari persiapan NAVOSKA menuju ajang Jakarta International Choral Festival 2026 yang akan berlangsung pada 5–8 Juli 2026 mendatang.
Kurang lebih 650 penonton hadir memenuhi ruang pertunjukan. Tepuk tangan beberapa kali terdengar meriah saat para anggota paduan suara membawakan repertoar bernuansa folklore Nusantara seperti Cikala Le Pong, Anoman Obong, O Ulate, Hela Rotan, Mana Lolo Banda, Paris Barantai, hingga Bungong Jeumpa.
Di bawah arahan conductor M. Fadli Sugianto, penampilan NAVOSKA tampil energik dengan permainan dinamika vokal yang cukup kuat. Tidak hanya menyuguhkan harmonisasi suara, para penyanyi juga menghadirkan ekspresi panggung yang mampu membangun suasana folklorik di setiap lagu.
Saat ditemui di lokasi konser, pengamat seni pertunjukan Rudi Hartono, S.Sn.,M.Sn menilai konser tersebut menunjukkan perkembangan artistik yang cukup matang untuk ukuran kelompok paduan suara tingkat sekolah menengah. “Yang menarik dari NAVOSKA hari ini bukan hanya kualitas vokalnya, tetapi keberanian mereka membawa identitas budaya melalui lagu-lagu folklore. Mereka tidak sekadar bernyanyi, tetapi sedang membangun narasi budaya di atas panggung,” ujarnya saat diwawancarai usai pertunjukan.
Menurutnya, pilihan repertoar daerah menjadi kekuatan utama yang membedakan penampilan NAVOSKA dibanding pertunjukan koor pelajar pada umumnya. “Kita bisa mendengar dan melihat bagaimana lagu-lagu seperti Anoman Obong atau Bungong Jeumpa tidak dibawakan secara datar. Ada interpretasi, ada energi tubuh, ada rasa yang dibangun. Itu penting dalam seni pertunjukan,” tambahnya.
Dari hasil pengamatan selama konser berlangsung, Rudi Hartono, S.Sn., M.Sn juga menilai bahwa para anggota paduan suara berhasil menjaga konsentrasi musikal meskipun membawakan lagu dengan karakter yang berbeda-beda. “Folklore itu tidak mudah. Tantangannya bukan hanya nada, tetapi bagaimana penyanyi mampu menghadirkan warna budaya dari tiap lagu. Dan tadi saya melihat ada usaha serius ke arah itu,” katanya.
Selain aspek musikal, ia menyoroti disiplin kolektif yang terlihat selama pertunjukan berlangsung. Menurutnya, kemampuan menjaga kekompakan dalam paduan suara menjadi bagian penting dari pembentukan karakter generasi muda. “Paduan suara itu latihan mendengar orang lain. Di situ ada disiplin, ada kerja sama, ada pengendalian ego. Jadi kegiatan seperti ini sebenarnya bukan cuma soal lomba, tetapi juga pendidikan karakter,” jelasnya.
Lagu-lagu seperti Cikala Le Pong, , O Ulate, Hela Rotan, Mana Lolo Banda, Bungong Jeumpa hingga Anoman Obong dibawakan dengan pendekatan teatrikal yang tidak berlebihan, namun cukup efektif membangun suasana. Penonton tidak hanya mendengar lagu, tetapi juga merasakan lanskap budaya yang dihadirkan melalui warna vokal, ritme tubuh, dan ekspresi musikal para penyanyi. Salah satu kekuatan konser ini terletak pada keberanian NAVOSKA mengolah musik tradisi menjadi sajian koor modern tanpa kehilangan identitas etniknya.
Dalam beberapa repertoar, aksentuasi ritmis dan permainan artikulasi terdengar cukup disiplin. Sementara pada lagu-lagu lirih seperti Paris Barantai dan Lihat Lebih Dekat, nuansa emosional dibangun lebih tenang dan reflektif.
Rudi Hartono, S.Sn., M.Sn melihat konser ini tidak hanya berbicara tentang teknik vokal, tetapi juga tentang proses pembentukan karakter artistik generasi muda. Ada kesadaran bahwa paduan suara bukan sekadar aktivitas ekstrakurikuler sekolah, melainkan ruang pendidikan etetika, disipl in, dan kerja kolektif.
Hal tersebut j uga tercermin dare respons penonton panggung yang stabil
Teddyjoe