Jumlah 52 UMKM Karawang Masuk Program “Naik Kelas”, Mampukah Pendampingan Kampus-Pemerintah Menjawab Tantangan Nyata Pelaku Usaha?
KARAWANG | KILATBERITA.WEB.ID | Di tengah gempuran produk pabrikan, persaingan digital yang semakin ketat, serta tingginya angka pelaku usaha mikro yang sulit berkembang, sebanyak 52 pelaku UMKM di Kabupaten Karawang resmi mengikuti program “UMKM Naik Kelas”, hasil kolaborasi antara Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Karawang dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UBP Karawang.
Program yang resmi dimulai melalui kegiatan kick off di Aula Rektorat UBP Karawang ini tidak sekadar menjadi agenda pelatihan seremonial. Lebih dari itu, program ini menjadi upaya untuk menjawab persoalan klasik yang selama ini membelit UMKM, yakni lemahnya manajemen usaha, minimnya akses pasar, rendahnya literasi digital, hingga kesulitan meningkatkan skala bisnis.
Data berbagai lembaga menunjukkan sebagian besar UMKM di Indonesia mampu bertahan pada tahap awal, namun tidak sedikit yang gagal berkembang karena keterbatasan pendampingan berkelanjutan. Kondisi inilah yang menjadi fokus utama dalam program yang akan berlangsung hingga Agustus 2026 tersebut.
Dekan FEB UBP Karawang, Dr. Citra Savitri, menjelaskan bahwa program ini dirancang tidak hanya memberikan pemahaman teori bisnis, tetapi juga memastikan para peserta mendapatkan pendampingan yang terukur dan aplikatif.
"Hari ini menjadi langkah awal program UMKM Naik Kelas. Selanjutnya peserta akan mengikuti pelatihan dan pendampingan secara berkala setiap pekan hingga Agustus mendatang. Targetnya bukan sekadar menambah wawasan, tetapi mendorong usaha mereka benar-benar tumbuh dan menghasilkan keuntungan yang berkelanjutan," ujarnya.
Menurutnya, banyak pelaku UMKM yang sebenarnya memiliki produk potensial, namun belum memiliki fondasi bisnis yang kuat. Sebagian bahkan masih berada pada fase usaha yang sangat dini sehingga membutuhkan arahan dalam mengelola produksi, pemasaran, hingga pengelolaan keuangan.
Dalam program tersebut, akademisi akan berperan memberikan penguatan konsep dan strategi bisnis, sementara para praktisi akan membagikan pengalaman lapangan agar peserta memahami tantangan riil dunia usaha.
"Pendampingan ini penting karena banyak UMKM yang memiliki produk bagus tetapi belum mampu mengelola usaha secara profesional. Di sinilah peran kampus untuk hadir memberikan solusi," katanya.
Sementara itu, Rektor UBP Karawang, Assoc. Prof. Dr. Budi Rismayadi, S.E., M.M., menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab sosial untuk memastikan ilmu pengetahuan yang dimiliki tidak berhenti di ruang kelas.
Menurutnya, sektor UMKM merupakan salah satu fondasi utama perekonomian daerah yang harus terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor.
"Perguruan tinggi harus mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Kami ingin kehadiran akademisi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh para pelaku usaha yang menjadi penggerak ekonomi rakyat," ujarnya.
Ia menambahkan, tantangan UMKM saat ini bukan hanya bagaimana memproduksi barang, tetapi juga bagaimana membangun merek, menguasai pemasaran digital, mengelola keuangan, hingga mampu bertahan di tengah perubahan pasar yang cepat.
Karena itu, pendampingan berkelanjutan dinilai menjadi kunci agar pelaku usaha tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu meningkatkan kapasitas dan daya saingnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Karawang, Dindin Rachmady, menyebut kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi merupakan langkah strategis dalam membangun ekosistem UMKM yang lebih kuat.
Menurutnya, keberhasilan UMKM tidak bisa hanya mengandalkan bantuan permodalan. Yang jauh lebih penting adalah peningkatan kapasitas sumber daya manusia, kemampuan beradaptasi dengan teknologi, serta penguatan jaringan pemasaran.
"Pendampingan dari akademisi sangat dibutuhkan. Kami berharap program seperti ini terus berlanjut agar UMKM Karawang semakin siap menghadapi persaingan dan mampu memperluas pasar," katanya.
Dari Pelatihan ke Pembuktian
Meski demikian, tantangan terbesar dari program semacam ini adalah memastikan hasilnya benar-benar terukur. Publik tentu berharap program "UMKM Naik Kelas" tidak berhenti pada ruang pelatihan dan sertifikat semata, melainkan mampu melahirkan pelaku usaha yang naik omzet, memperluas pasar, menciptakan lapangan kerja baru, serta memiliki daya saing yang lebih kuat.
Jika pendampingan berjalan konsisten dan berorientasi pada hasil, kolaborasi antara kampus dan pemerintah daerah ini berpotensi menjadi model pemberdayaan UMKM yang efektif di Karawang.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan UMKM bukan hanya tentang bertambahnya jumlah pelaku usaha, tetapi tentang seberapa banyak usaha kecil yang mampu tumbuh menjadi kekuatan ekonomi baru bagi daerah.
Teddyjoe